Tentang Kami

Melestarikan Kain Tenun Indonesia, Pemerintah, asosiasi swasta dan inisiatif lokal lainnya kini mulai menggunakan tenun ikat Sumba–tradisional, tenunan tangan dari Sumba–untuk mempromosikan wisata budaya di wilayah Nusa Tenggara Timur. Namun di balik agenda ekonomi ini, tenun ikat Sumba masih berdiri sebagai ikon budaya kuno dengan kisah yang luar biasa untuk diceritakan.

Presiden Joko Widodo melakukan perjalanan ke Sumba Barat Daya pada Juli tahun ini untuk bergabung dengan festival lokal yang merayakan benang tenun ikat Sumba. Dalam kunjungannya, Presiden menyempatkan diri untuk mengingatkan warga tentang pentingnya mengapresiasi artefak budaya pribadi dari berbagai daerah.

Ia bahkan menekankan bahwa pemerintah harus, gencar mempromosikan budaya dan pariwisata Sumba melalui media sosial dan elektronik, serta fotografer dan blogger, agar keunikan Sumba dapat lebih dipahami.

Melestarikan Kain Tenun Indonesia

Presiden menegaskan bahwa kekayaan tradisi budaya Sumba akan menjadi investasi besar di sektor pariwisata Indonesia. Dan bahwa kain tenun tangan akan memainkan peran besar dalam mencapai tujuan itu.

Namun, tenun ikat Sumba lebih dari sekadar sepotong kain yang bisa diubah menjadi mesin penghasil uang. Masyarakat Sumba secara teratur menggunakan kain dalam ritual kehidupan penting seperti menyambut kelahiran anak, merayakan pernikahan dan menghormati almarhum. Hal ini semakin menggambarkan bagaimana Melestarikan Kain Tenun Indonesia tradisional begitu melekat pada rutinitas sehari-hari masyarakat Sumba.

Seniman lokal mengungkapkan bahwa kain tidak hanya melambangkan budaya mereka tetapi juga berfungsi sebagai pesan yang diturunkan oleh nenek moyang kepada generasi mendatang. Sangat penting bagi para seniman ini untuk menangkap semangat dan filosofi tekstil.

Setiap pola yang ditampilkan pada kain melambangkan makna tertentu. Kuda dan naga melambangkan kekuatan dan maskulinitas; buaya mewakili kesetiaan dan kejujuran; sedangkan ular dan udang melambangkan akhirat yang abadi.

Sementara banyak orang Indonesia memakai tenun sebagai penghormatan terhadap budaya Indonesia yang lebih luas, hanya sedikit dari mereka yang benar-benar menyadari proses yang sangat rumit di balik pembuatan kain tersebut. Sebelum mulai mengerjakan kain, seniman harus terlebih dahulu mencari bahan dan pewarna alami.

Proses Tenun Selanjutnya

Kemudian, pengerjaan pola dimulai dengan mengikat tali-tali kecil dengan daun lontar. Ini adalah bagian tersulit dari proses, karena akan menentukan hasil dan seniman harus memastikan warna pola berbeda dari warna dasar. Artis mungkin juga perlu melalui tahap lain pada saat ini.

Mereka termasuk mengeringkan kain, merendamnya dalam minyak kemiri atau – dalam beberapa kasus – seniman harus mempertahankan warnanya dengan menyimpan kain dalam wadah tertutup. Untuk alasan ini, dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk membuat satu lembar kain.

Selama beberapa bulan terakhir, asosiasi pemerintah dan swasta telah menyelenggarakan serangkaian acara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Melestarikan Kain Tenun Indonesia. Rumah mode Biyan yang diakui secara internasional, misalnya, baru-baru ini memamerkan koleksi terbarunya yang menonjolkan semangat dan kerumitan seni.

Rumah mode ini juga bekerja sama dengan LSM lokal Rumah Asuh untuk membangun rumah bagi seniman di Sumba untuk membantu mempertahankan produksi kain kuno. Lain seperti aktris lokal Dian Sastrowardoyo juga datang dengan inisiatif serupa dengan mengadakan pameran tenun ikat.

Kain Tenun Ikat Tradisional Sumba

Menyusul kesuksesan Festival Kuda Cendana 1001 yang telah berlangsung dari tanggal 3 hingga 12 Juli 2017, pulau eksotis Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur akan kembali disorot dengan kemeriahan yang menarik. Untuk saat ini terdapat sorotan ke salah satu karya khas pulau yang cukup berharga, yaitu kerajinan kain tenun tradisional Ikat, yang di buat sebagai festifal tenun ikat Sumba.

Kabupaten Sumba Barat Daya. Festival ini diperkirakan akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo sendiri. Merayakan kualitas seni masyarakat Sumba yang luar biasa. Festival ini akan menampilkan semua yang membuat seni Melestarikan Kain Tenun Indonesia begitu istimewa. Ini termasuk motif dan desain yang luar biasa, warna luar biasa yang hanya menggunakan bahan alami untuk pewarna seperti daun dan akar, serta filosofi dan sejarah di balik kain tradisional yang unik ini. Penggunaan pewarna alami secara unik menyebabkan warna bertahan lama dan bukannya memudar, kualitas yang benar-benar menarik.

Kata “ikat” sendiri berarti mengikat atau mengikat. Setiap daerah di Sumba memiliki berbagai motif dan corak tenun ikat. Di Wanokaka, Lamboya serta di Tana Righu ada kain panggiling. Pahikung dan pawora sedangkan di daerah Loli ada kain yang disebut kain lambaleko. Hingga saat ini, meskipun sebagian besar telah memeluk agama Kristen atau Islam. Namun masyarakat Sumba masih mengikuti tradisi megalitik yang diajarkan oleh nenek moyang mereka.

Tenun Ikat Sumba

Tenun ikat di seluruh Sumba memiliki makna sosial, agama dan tradisional. Perbedaan jenis kain ikat berkaitan dengan pola dalam pembuatan dan teknik pewarnaannya. Secara tradisional hanya anggota klan tertinggi dan pelayan pribadi mereka yang mengenakan ini untuk upacara khusus saja.

Pada pemakaman raja-raja dan tokoh-tokoh penting, tubuh biasanya dibalut dengan kain terbaik agar muncul dengan baik di alam baka. Dan tumpukan kain tambahan kemudian sering dikirim bersama orang mati juga. Belandalah yang mulai mengekspor tenun ikat ke Eropa dan Jawa, di mana bahan-bahan mahal ini dengan cepat menjadi sangat populer.

Sampai hari ini, kain Sumba dikumpulkan sebagai contoh desain tekstil berkualitas tinggi dan ditemukan di museum-museum besar dunia serta di rumah-rumah kolektor. Dan itulah beberapa pembahasan tentang Melestarikan Kain Tenun Indonesia.